-------------------- ---------------------

Fish

Senin, 28 Mei 2012

Budidaya Monokultur jagung sebagai pemasok utama substrat biogas

Setelah 'Demam' Jagung Muncul Biogas dari Tumbuhan Liar Ekologis

Rubrik: Teknologi    


dw.de

Biogas di Jerman yang terutama memanfatkan bahan baku tanaman monoklutur jagung dihujani kritik. Kini diteliti pemanfaatan campuran beragam tanaman liar ekologis sebagai alternatif yang atraktif.
 
Di Jerman muncul fenomena yang disebut para pengritik sebagai "demam jagung". Dalam beberapa tahun terakhir, areal tanaman jagung meningkat drastis.  Tahun 2011 tercatat lahan budidaya jagung seluas 2,5 juta hektar, atau naik hampir 50 persen dibanding areal tanam tahun 2005 yang luasnya sekitar 1,7 hektar.
 
Meningkatnya animo warga membangun instalasi pembangkit listrik biogas, dipicu rangsangan ekonomi yang dicanangkan pemerintah di Berlin. Listrik hijau dari instasi biogas yang dijual ke jejaring listrik resmi dijamin tarifnya pada kisaran antara 6 hingga 22 cent Euro per Kilowatt-jam.
 
Saat ini di seluruh Jerman terdapat sekitar 7100 instalasi biogas. Daya listrik yang dibangkitkannya keseluruhan mencapai 2800 Megawatt, atau setara dengan daya dua PLTN besar.
 
kaskus

Seperti ditulis dw.de, substrat utama yang sudah teruji kehandalannya bagi instalasi biogas di Jerman adalah tanaman jagung. Korelasi antara instalasi biogas dan budidaya jagung menjadi sulit dipisahkan lagi. Sebagai konsekuensi dari booming di sektor bisnis listrik biogas itu, adalah terus bertambah luasnya areal budidaya jagung. Tren ini kelihatannya terus bertahan.
 
Melihat perkembangan terbaru, para pelindung lingkungan mengritik budidaya monokultur jagung sebagai pemasok utama substrat biogas. Selain rentan serangan hama, penanaman semacam itu juga perlu bahan kimia dalam jumlah besar. Baik untuk pemupukan atau sebagai pembasmi hama.
 
Tanaman liar sebagai alternatif
Riset terbaru menunjukkan, korelasi jagung-biogas juga bisa diubah. Budidaya campuran beragam tanaman liar terbukti menjadi alternatif yang menarik. Neraca yang bisa ditarik, pada akhirnya  energi yang diproduksi tidak lebih mahal dibanding energi dari tanaman jagung.
 
Dinas pertanian anggur dan pertamanan di negara bagian Bayern tahun 2009 mulai melakukan ujicoba penanaman 25 jenis tumbuhan, kebanyakan bunga liar di lahan percobaan. Tahun berikutnya areal ujicoba diperluas menjadi 25 hektar. Tahun 2011 areal ujicoba bertambah menjadi 200 hektar di berbagai kawasan di Jerman.
 
Riset dirancang dilakukan selama 5 tahun. Untuk setiap wilayah dilakukan modifikasi ringan pada tanaman, sesuai kondisi lokal. Alam dibiarkan memainkan peranan terbesar pada tanaman riset. Lahan tanaman sumber energi berkembang menjadi ekosistem yang berharga.
 
Lebih ekonomis
Salah satu kawasan proyek percobaan adalah Konstanz di selatan Jerman. Di kota yang terletak di pinggir danau Bodensee itu dilakukan penanaman campuran beragam tumbuhan liar di areal seluas 28 hektar. Kawasan Bodensee merupakan ekologi yang ringkih dan budidaya monokultur jagung akan mengancam ekosistem keseluruhan.
 
Hasil proyek percobaan itu, sejauh ini cukup menggembirakan. Lahan penanamannya diolah dengan teknik pertanian yang baku. Hasil panen menunjukkan volume antara 50 hingga 70 persen volume panen tanaman jagung yang dijadikan acuan.
 
Walaupun volume panen tanaman liar lebih rendah dari tanaman jagung, namun secara ekonomi keduanya setara, kata Jochen Goedecke dari proyek percontohan Konstanz. "Sebagai kompensasi dari lebih rendahnya volume panen per hektarnya, harus dihitung penghematan ongkos lainnya", tambahnya.
 
Tanaman bunga liar itu hanya disemai sekali dan dapat terus menerus dipanen sampai lima tahun. Hal itu menghemat ongkos bibit serta ongkos menyewa mesin penyemai bibit.
 
Ramah lingkungan
Yang lebih penting lagi, ongkos bahan kimia pertanian samasekali tidak ada. Sebab tanaman liar itu tidak perlu dipupuk atau disemprot racun anti hama. Artinya, selain ongkos keseluruhan lebih murah dibanding tanaman jagung, budidaya tanaman liar juga lebih bersahabat dengan lingkungan.
 
Keuntungan lainnya, ekosistem baru dari beragam tanaman, mendorong naiknya keragaman hayati. Kawasan tumbuhan liar itu membuka ruang perlindungan bagi hewan liar dan bunga-bunga menjadi daya tarik bagi lebah atau tabuhan.
 
Tanpa bahan kimia juga berarti kualitas tanah dan air tanah akan meningkat. Sementara semakin jarangnya penggunaan mesin di lahan penanaman, mengurangi pemampatan tanah yang memicu erosi. Tambaha  lagi, tumbuhan bunga liar juga menjadi atraksi pemandangan indah.
 
Namun berbagai keunggulan tanaman bunga liar dibanding tanaman jagung, belum mampu menarik pertanian para petani. Masalahnya, pola pikir petani dan pengusaha biogas sudah terpateri pada tanaman jagung. Di lain pihak juga terdapat pemikiran yang sulit diubah, bahwa lahan pertanian harus bebas dari tanaman liar. Jadi bunga liar masih dianggap sebagai gulma yang harus dibasmi, bukannya dibudidayakan sebagai sumber energi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

-------------